Templates by BIGtheme NET

PKL ANSOR KEC. KAWUNGANTEN

Berangkat dari persoalan-persoalan kaderisasi,

maka upaya reformulasi ideology serta realisasi kaderisasi menjadi sebuah keniscayaan. Bagaimanapun, Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) menjadi wahana strategis bagi kader dalam berproses sehingga diharapkan akan berkontribusi secara linear dengan terciptanya penguatan dan kemandirian organisasi  GP ANSOR. PKL sendiri merupakan jenjang kaderisasi formal tingkat menengah yang manjadi bagian dari sistem kaderisasi di tubuh GP Ansor setelah Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) di tingkat dasar dan sebelum Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) sebagai jenjang terakhir. Dengan demikian, peserta PKL adalah para kader GP Ansor yang telah menyelesaikan jenjang kaderisasi sebelumnya, yaitu PKD.

Kaderisasi yang pada hakekatnya merupakan totalitas upaya pembelajaran dan pemberdayaan yang dilakukan oleh organisasi haruslah berjalan secara sistematik, baik dari sisi jenjang maupun organ. Namun kenyataannya kaderisasi  bagi kader muda NU belum sepenuhnya dapat berjalan secara sistematik. Hal ini ditunjukkan oleh banyaknya kader muda NU baik alumni Ikatan Pelajar NU (IPNU), alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan kyai-kyai muda yang tidak atau belum melanjutkan kaderisasinya di organ yang lebih atas yaitu GP Ansor.

Padahal banyak dari mereka yang telah menyelesaikan jenjang kaderisasi baik tingkat menengah atau bahkan atas di organisasinya. Pada sisi lain, sistem kaderisasi GP ansor menuntut adanya sistematika jenjang kaderisasi yang harus diselesaikan sebelum mengikuti jenjang di atasnya. Dengan demikian, para kader IPNU – PMII atau kyai-kyai muda yang tidak mengikuti kaderisasi di GP Ansor pada tingkat dasar, tidak akan dapat mengikuti kaderisasi jenjang berikutnya.

Padahal kenyataannya mereka adalah lulusan-lulusan kaderisasi tingkat menengah atau bahkan tingkat tertinggi di organisasi masing-masing yang itu merupakan kader-kader terbaik dari organisasinya. Sementara kyai muda adalah kader-kader potensial yang akan mengisi kepengurusan NU nantinya di daerah masing-masing. Jika hal yang demikian berlanjut, maka terus menerus akan ada keterputusan dari skenario besar sistem kaderisasi di tubuh NU terhadap kader mudanya. Untuk itu diperlukan sebuah terobosan yang dapat menjembatani kenyataan tersebut sehingga skenario besar sistem kaderisasi di tubuh NU dapat berjalan secara linear, baik dari sisi penjenjangan kaderisasi di setiap Banom maupun antar banom.